• Pefindo Turunkan Peringkat Sukuk Mudharabah ADHI

    PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat Sukuk Mudharabah  Berkelanjutan PT Adhi  Karya (ADHI) tahap I/2012 dan tahap II/2013 menjadi A-(sy) dari sebelumnya A(sy).

    Penurunan peringkat tersebut sekaligus berlaku bagi Obligasi Berkelanjutan  tahap  I/2012 dan tahap II/2013 serta perusahaan. Adapun periode pemeringkatan berlaku 11 April 2016 hingga 1 April 2017.

    Analis Pefindo Haryo Koconegoro mengatakan penurunan peringkat ini didorong oleh pelemahan dari struktur permodalan dan rasio perlindungan arus kas Perusahaan, sebagai akibat dari tekanan berkelanjutan atas marjin profitabilitas Perusahaan karena kondisi yang penuh tantangan pada divisi engineering, procurement, and construction (EPC), yang telah menyebabkan rasio utang-terhadap-EBITDA (disetahunkan) melebihi level 3,5 kali dan rasio FFO terhadap utang disetahunkan secara  konsisten berada di bawa 15,0% pada enam  triwulan terakhir.

    "Hal tersebut merupakan salah satu kondisi yang kami nyatakan dapat memicu penurunan peringkat Perusahaan pada saat pemantauan peringkat tahun lalu," ujar Haryo, Jakarta.  

    Haryo melanjutkan prospek untuk peringkat Perusahaan direvisi menjadi stabil dari negatif. Alasannya, penurunan peringkat  telah memperhitungkan ekspektasi bahwa struktur permodalan dan proteksi arus kas Perusahaan tidak akan berbeda secara  signifikan dibandingkan posisi terakhir, untuk jangka pendek dan menengah.  

    "Peringkat tersebut mencerminkan posisi pasar Perusahaan yang kuat di industri konstruksi domestik, keuntungan sebagai perusahaan konstruksi milik Negara, dan potensi perbaikan marjin profitabilitas  pada jangka menengah," lanjut dia.

    Namun, peringkat tersebut dibatasi oleh tingkat leverage keuangan Perusahaan yang  tinggi dan rasio arus kas yang lemah, risiko yang berkaitan dengan bisnis EPC dan bisnis baru, dan lingkungan bisnis yang cukup fluktuatif pada industri konstruksi dan properti.  

    ADHI adalah salah satu perusahaan konstruksi terbesar di  Indonesia. Perusahaan membagi aktivitas bisnisnya menjadi lima kategori utama, yakni jasa konstruksi, EPC, properti, realti dan investasi pada infrastruktur. ADHI adalah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per akhir Desember 2015, komposisi pemegang saham Perusahaan adalah Pemerintah Indonesia sebesar 51% dan publik sebesar 49%. (lan)

  • Pefindo Turunkan Peringkat Bank Muamalat

    Pefindo menurunkan peringkat PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BBMI) menjadi "idA+" dari "idAA-". Peringkat sukuk subordinasi berkelanjutan I Tahap I/2012 dan Tahap II/2013 yang belum jatuh tempo juga diturunkan menjadi "idA(sy)" dari "idA+(sy)".

  • Pefindo Sematkan Peringkat AA+ Untuk Sukuk BNI Syariah

    PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyematkan peringkat AA+ untuk Sukuk Mudharabah PT Bank Negara Indonesia Syariah (BBSY) I/2015. Periode pemeringkatan tersebut berlaku 10 Februari 2016 hingga 1 Februari 2017.

  • Outstanding Sukuk Korporasi Turun Tipis

    Outstanding surat berharga syariah atau sukuk korporasi turun tipis. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai sukuk korporasi turun menjadi Rp 9,80 triliun pada 19 Februari 2016 dibandingkan akhir 2015 lalu yang sekitar Rp 9,90 triliun.Market share sukuk korporasi tercatat 3,87% dibandingkan total outstanding surat utang korporasi, baik konvensional maupun syariah yang mencapai Rp 253,39 triliun.

  • OJK Dorong Penerbitan Sukuk Untuk Pembiayaan Infrastruktur

    Otoritas Jasa Keuangan mendorong minat emiten di Indonesia untuk menerbitkan sukuk berdenominasi rupiah untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur di Tanah Air.

  • Indonesia Paling Banyak Terbitkan Sukuk di Dunia

    Secara porsi ukuran, Indonesia menjadi negara yang mengeluarkan sukuk terbesar di dunia untuk pembiayaan. Ke depannya, pemerintah berharap kualitas dari sukuk tersebut dapat ditingkatkan. Menurut Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro, pemerintah telah berkomitmen untuk meningkatkan prestasi ini.

  • Dukungan Pemerintah Terhadap Keuangan Syariah Semakin Menguat

    Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil menyebutkan potensi dan peran penting investasi keuangan syariah dalam mendukung pembangunan nasional di hadapan audiens yang menghadiri acara IFN Asia Forum 2016 di Hotel Shangri-La Jakarta pada Rabu (06/04).

  • Ditengah Penurunan Harga, Indeks Sukuk Negara Sanggup Menguat

    Mayoritas harga sukuk negara bergerak negatif pada pekan 21-24 Maret 2016 dengan rata-rata penurunan seluruh seri sebesar 5,96bps week on week (wow).

  • BNI Syariah Terbitkan Sukuk Pertama di 2015

    PT Bank BNI Syariah melangsungkan Due Diligence dan Public Expose Penerbitan Sukuk Mudharabah Bank BNI Syariah I tahun 2015. Sukuk Mudharabah ini diluncurkan dengan tujuan untuk menunjang ekspansi bisnis guna mengembangkan kegiatan pembiayaan syariah serta menjaga likuiditas jangka panjang. Sukuk BNI Syariah diterbitkan dengan tenor 3 Tahun dan diperkirakan dapat diserap pasar sebesar Rp750 Miliar. Perseroan akan menggunakan dana hasil Penawaran Umum Sukuk Mudharabah untuk membiayai kegiatan atau investasi yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal.

  • Alhamdulillah, Pasar Sukuk Bullish

    Sentimen positif dalam negeri pada awal bulan Maret menjadi pemicu utama penguatan pasar sukuk domestik.

  • Alhamdulillah, 181 KUA Dibangun dengan Dana Sukuk

    Pada tahun ini, sebanyak 181 unit Kantor Urusan Agama (KUA) akan dibangun dengan pembiayaan dari Sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Angka ini meningkat hampir 700 persen dibanding tahun lalu yang berjumlah 26 lokasi. Untuk proyek tersebut, Kementerian Keuangan telah menyiapkan anggaran SBSN sebesar Rp 181,9 miliar sesuai dengan hasil trilateral meeting yang dilaksanakan di Kementerian PPN/Bappenas tahun lalu.

  • Akhir Maret, Harga Sukuk Menguat

    Pasar sukuk negara mencatatkan kinerja positif pada pekan terakhir Maret 2016.

     

    Indonesia Government Sukuk Index (IGSIX) menguat 1,0426 poin pada pekan 28 Maret-1 April 2016 week on week (wow) ke level 179.7365 dari 178.6939. Penguatan tersebut didorong oleh positifnya harga mayoritas seri sukuk negara dengan rata-rata sebesar 55,34bps wow.

     

    Kenaikan harga tertinggi dicatatkan oleh kelompok seri IFR yakni sebesar 75,28bps wow. Kemudian diikuti secara berturut-turut oleh kelompok seri Project Based Sukuk (PBS) yang menguat sebesar 58,95bps wow dan kelompok seri Sukuk Ritel (SR) yang menguat sebesar 1,00bps wow.

     

    Dari seluruh seri hanya terdapat tiga seri yang tercatat melemah. Seri-seri tersebut yakni IFR005 tertekan 21,34bps wow, PBS008 tertekan 15,06bps wow, dan SR006 yang turun 16,23bps wow.

     

    Analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Roby Rushandie mengatakan positifnya pasar Surat Berharga Negara (SBN) ditopang oleh masukya investor asing dengan aksi trading. "Asing melakukan net buy dan net sell yang tipis secara bergantian tiap harinya", ujar Roby, Jakarta. (lan)

  • 7 Tahun Lagi Aset Industri Syariah Rp 1.400 Triliun

    Aset industri keuangan syariah dapat berkembang hingga sekitar Rp1.400 triliun pada tahun mendatang. Angka tersebut diperkirakan sekitar 12% dari seluruh sistem keuangan nasional.

  • 18 Bank Syariah Sepakat Gunakan MRA Syariah

    Sebagai salah satu solusi menangani masalah likuiditas di perbankan syariah serta untuk mendorong peningkatan transaksi di pasar Sukuk dan PUAS (Pasar Uang Antar Bank Berdasarkan Prinsip Syariah), 18 Bank anggota Indonesian Islamic Global Market Association (IIGMA) sepakat untuk menggunakan Mini Master Repo Agreement (MRA) Syariah sebagai dokumen acuan pada Transaksi Repurchase Agreement Surat Berharga Syariah Berdasarkan Prinsip Syariah (Transaksi Repo Syariah). Kesepakatan tersebut diwujudkan melalui penandatangan MoU pada 2 Juli 2015 di Jakarta.

  • Penerbitan Sukuk Korporasi Masih Nihil

    Perkembangan sukuk korporasi masih sangat minim. Hingga April 2015, belum ada perusahaan yang berencana menerbitkan sukuk korporasi. Bandingkan dengan jumlah Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang sampai dengan 30 Maret 2015 mencapai Rp42,7 triliun. Perinciannya, project bases sukuk Rp17,76 triliun, sukuk ritel Rp21,96 triliun dan SPN Syariah Rp3 triliun.