• BI Kaji Repo Syariah

    Bank Indonesia (BI) tengah mengkaji instrumen perjanjian tentang pembelian kembali (repo) syariah. Ada beberapa alasan yang membuat regulator perlu membuat instrumen repo syariah. Diantaranya adalah pola hubungan anak-induk dalam pengelolaan likuiditas tidak bisa seluruhnya mengatasi kebutuhan likuiditas bank syariah. Juga diperlukannya kemandirian dalam pengelolaan likuiditas akibat adanya kewajiban spin off UUS menjadi BUS.

  • Bank Syariah Sekedar Komplementer Pelaku Usaha

    Masih kecilnya market share perbankan syariah membuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional menjadi kurang begitu signifikan. Sejumlah pelaku usaha pun merasakan, pembiayaan dari perbankan syariah hanya bersifat komplementer saja. Salah satu penyebabnya adalah tingginya nilai bagi hasil yang ditawarkan perbankan syariah.

  • Bank Syariah Sebuah Entitas Bisnis atau Jalan Menuju surga

    Widia

    (Direktur Utama BPRS Arta Leksana)

    Pembahasan materi tentang bank syariah sering membawa pembahasan itu pada kesimpulan atau pertanyaan-pertanyaan baru yang menarik. Salah satu pertanyaan bagus yang di lontarkan seorang dosen ekonomi senior adalah sebagai berikut : “Bank Syariah sebetulnya sebuah entitas bisnis atau jalan menuju sorga?”

  • Bank Muamalat Perluas Pembiayaan KPR

    Pembiayaan hunian masih menjadi primadona perbankan dalam menyalurkan pembiayaan ritel, tidak terkecuali dengan perbankan syariah. Tidak hanya dilakukan sendiri, populernya produk consumer tersebut membuka peluang kerjasama antar institusi untuk menggarap pasar ini. Hal ini dilakukan Bank Muamalat dengan kembali menjalin kerjasama dengan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) guna memperluas pembiayaan melalui produk KPR yang dimilikinya.

  • Bank Muamalat Kerjasama Strategis dengan DPP Hidayatullah

    Bank Muamalat Indonesia (Bank Muamalat) dan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah (DPPH) meluncurkan kerjasama strategis dalam bidang Penggunaan Produk dan Jasa Layanan Perbankan yaitu pemanfaatan line facility pembiayaan hingga limit Rp 500 miliar secara bertahap. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilangsungkan  di Muamalat Tower, Jakarta

  • 7 Tahun Lagi Aset Industri Syariah Rp 1.400 Triliun

    Aset industri keuangan syariah dapat berkembang hingga sekitar Rp1.400 triliun pada tahun mendatang. Angka tersebut diperkirakan sekitar 12% dari seluruh sistem keuangan nasional.

  • 18 Bank Syariah Sepakat Gunakan MRA Syariah

    Sebagai salah satu solusi menangani masalah likuiditas di perbankan syariah serta untuk mendorong peningkatan transaksi di pasar Sukuk dan PUAS (Pasar Uang Antar Bank Berdasarkan Prinsip Syariah), 18 Bank anggota Indonesian Islamic Global Market Association (IIGMA) sepakat untuk menggunakan Mini Master Repo Agreement (MRA) Syariah sebagai dokumen acuan pada Transaksi Repurchase Agreement Surat Berharga Syariah Berdasarkan Prinsip Syariah (Transaksi Repo Syariah). Kesepakatan tersebut diwujudkan melalui penandatangan MoU pada 2 Juli 2015 di Jakarta.

  • Muamalat Hadirkan Co-Branding Kartu Debit Bersama Arsenal FC

    Bank Muamalat Indonesia (Bank Muamalat) melanjutkan upaya untuk mengembangkan perusahaan ke arah pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan, melalui komitmennya dalam hal peningkatan kerjasama tingkat internasional bersama dengan Arsenal Football Club (FC). Kelanjutan dari kerjasama strategis yang telah dijalin sejak Januari 2016 lalu ini, tertuang dalam peluncuran co-branding kartu debit Bank Muamalat dengan Arsenal FC, di Muamalat Tower, Jakarta.

  • Keuangan Islam Didominasi Perbankan dan Pasar Modal

    Perkembangan industri jasa keuangan Islam masih didominasi oleh dua industri besar, yaitu sektor perbankan Islam dan pasar modal Islam dengan kontribusi masing-masing 80% dan 15%. Minat negara-negara besar non-Muslim seperti United Kingdom, Afrika Selatan, dan Luxemburg, untuk menerbitkan Sukuk global adalah hal yang monumental.