Sistem Ekonomi Moneter dalam Perspektif Islam

Oleh:
Arditya Farid (Mahasiswa Institute Perbanas, Jakarta)
Rizki Nugroho (Mahasiswa Institute Perbanas, Jakarta)

Pada zaman ini banyak sekali system yang mempengaruhi pergerakan ekonomi di suatu negara untuk menjaga kestabilan perekonomiaan dan salah satu sintem yang di gunakan negara Indonesia adalah sistem kebijakan moneter yang bertujuan untuk menjaga tinggkat kestabilan harga dan juga mengatur tingkat tinggi rendahnya inflasi, system kebijakan moneter yaitu kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter kontraktif.

Kebijakan moneter di pengaruhi langsung oleh Bank Sentral atau Bank Indonesia. Bank Indonesia menggunakan system kebijakan moneter untuk mengatur perekonomian langsung melalui bank - bank konvensional dan syariah. Kebijakan moneter yang mempengaruhi bank konvensional dan syariah adalah kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter kontraktif, instrument kebijakan moneter konvensional yaitu kebijakan pasar terbuka, penentuan cadangan wajib minimum, penentuan discount rate.

Perbedaan utama kebijakan moneter konvensional dan islam adalah islam tidak mengakui adanya instrument bunga karena jelas dalam Alqur`an riba itu sangat dilarang atau haram. Hikmah pelarangan riba agar terjadi hubungan partnership antara pemilik dan usaha secara adil.

Pengertian system moneter dan jenisnya

Kebijakan moneter adalah salah satu instrumen atau suatu system penting untuk mengatur perekonomian suatu negera. Kebijakan moneter adalah suatu cara yang di lakukan pemerintah untuk mengatur tingkat peredaran uang dan tingkat suku bunga bank.

Kebijakan moneter sering kali di gunakan di negara Indonesia karna perekonomian Indonesia yang mengalamai kirisis ekonomi diwaktu lalu, kebijakan moneter memiliki 2 jenis kebijakan yaitu di antaranya Moneter Ekspansif  (Monetary expansive policy) atau biasa di sebut Moneter Longgar (easy money policy) yaitu kebijakan yang di lakukan untuk menambahkan jumlah uang beredar dan dengan cara ini dapat mengatasi beberapa masalah yaitu mengurangi pengangguran dan meningkatkan daya beli masayarakat terhadap suatu barang/jasa, namun biasanya kebijakan ini di lakukan pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi. Sedangkan Moneter Kontraktif (Monetary contractive policy) atau biasa di sebut kebijakan uang ketat (tight money policy). Yaitu kebijakan yang di lakukan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar untuk mengatasi inflasi dan salah satu caranya yaitu meningkatkan tingkat suku bunga bank agar menarik minat masayarakat untuk menyimpan uangnya.

Tujuan utama dari kebijakan moneter yaitu untuk mengatasi tingkat inflasi yang tidak tepat sasaran serta jumlah peredaran uang yang terjadi, dengan menggunakan system kebijakan moneter inilah yang dapat membantu menjaga kestabilitasan perekonomian suatu negara. Selain itu juga untuk mengatur harga yang tidak pernah tetap dan apabila harga suatu barang atau jasa terus meninggkat maka hal itu dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi masayarakat, masayarakat akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya dan gejala ekonomi ini lah yang dapat menyebabkan inflasi.

Instrumen Kebijakan Moneter Konvensional

Instrument kebijakan moneter berguna untuk menjalankan kebijakan moneter dalam mencapai tujuanya, bank sentral menggunakan instrument – instrument kebijakan moneter seperti berikut :

  • Kebijakan Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) : sebuah kebijakan dari BI untuk menambah atau mengurangi jumlah keuangan, dengan cara menjual SBI atau menjual surat berharga dari pasar modal.
  • Kebijakan Diskonto (Discount Policy): kebijakan yang mengatur tingkat suku bunga untuk mencegah terjadinya inflasi yang melebihi target Bank Sentral
  • Kebijakan Cadangan Kas : adalah kebijakan yang mengatur nasabah yang menabung pada bank umum dengan bentuk giro, tabungan, deposito, sertifikat deposito, dan jenis tabungan lainnya. Didalam uang yang di berikan nasabah tersebut terdapat sebuah persentase tertentu yang tidak boleh diambil
  • Kebijakan Kredit Ketat : kebijakan ini digunakan pada saat terjadinya inflasi. Dengan cara orang yang mau meminjam uang harus memenuhi persyaratan 5C, yaitu Character, Capability, Collateral, Capital, dan Condition of Economy
  • Kebijakan Dorongan Moral (Moral Suasion) : kebijakan yang berisikan sebuah pengumuman kepada seluruh bank umum untuk mengajak atau melarang untuk memberikan pinjaman tabungan ataupun pinjaman tabungan

Kebijakan Moneter dalam Perspektif Islam

Umer Capra menyebutkan tujuan utama dan fungsi kebijakan moneter dalam kerangka ekonomi yang Islami adalah untuk mencapai :

  1. Kesejehtaraan ekonomi yang diperluas dengan kesempatan kerja penuh dan laju pertumbuhan ekonomi yang optimal.
  2. Keadilan sosial ekonomi dan distribusi kekayaan, serta pendapatan yang merata.
  3. Stabilitas nilai mata uang untuk memungkinkan alat tukar sebagai suatu unit yang dapat diandalkan, standar yang adil bagi pembayaran masa depan, serta penyimpanan nilai yang stabil.
  4. Mobilitas dana tabungan – investasi untuk pembangunan ekonomi dalam suatu cara yang adil sehingga pengembalian keuntungan dapat dijamin bagi semua pihak yang bersangkutan.
  5. Memberikan semua bentuk pelayanan yang efektif yang secara normal diharapkam dari sistem perbankan.

Penghapusan bunga dan penerapan LPS dalam sistem moneter dalam islam akam membawa implikasi yang fundamental terhadap instrumen kebijakan yang digunakan.

Kebijakan Moneter adalah kebijakan yang digunakan untuk mengontrol jumlah uang yang beredar oleh Bank Sentral. Tujuan kebijakan moneter adalah memelihara kestabilan nilai uang secara internal maupun eksternal. Stabilitas nilai uang mencerminkan stabilitas harga yang mempengaruhi realisasi tujuan pembangunan suatu Negara, seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pemerataan distribusi, perluasan kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi riil yang optimum dan stabilitas ekonomi.

Tujuan kebijakan moneter islam tidak berbeda dengan tujuan kebijakan moneter konvensional yaitu menjaga stabilitas, sehingga pertumbuhan ekonomi yang merata yang diharapkan dapat tercapai. Stabilitas dalam nilai uang tidak terlepas dari tujuan ketulusan dan keterbukaan dalam berhubungan dengan manusia.

Instrument Kebijakan Moneter Islam

Adapun instrumen moneter syariah adalah hukum syariah. Hampir semua instrumen moneter pelaksanaan kebijakan moneter konvensional maupun surat berharga yang menjadi underlying-nya mengandung unsur bunga. Oleh karena itu instrumen-instrumen konvensional yang mengandung unsur bunga (bank rates, discount rate, open market operation dengan sekuritas bunga yang ditetapkan didepan) tidak dapat digunakan pada pelaksanaan kebijakan moneter berbasis Islam. Tetapi sejumlah instrumen kebijakan moneter konvensional menurut sejumlah pakar ekonomi Islam masih dapat digunakan untuk mengontrol uang dan kredit, seperti Reserve Requirement, overall and selecting credit ceiling, moral suasion and change in monetary base.

Dalam ekonomi Islam, tidak ada sistem bunga sehingga bank sentral tidak dapat menerapkan kebijakan discount rate tersebut. Bank Sentral Islam memerlukan instrumen yang bebas bunga untuk mengontrol kebijakan ekonomi moneter dalam ekonomi Islam. Dalam hal ini, terdapat beberapa instrumen bebas bunga yang dapat digunakan oleh bank sentral untuk meningkatkan atau menurunkan uang beredar. Penghapusan sistem bunga, tidak menghambat untuk mengontrol jumlah uang beredar dalam ekonomi.

Secara mendasar, terdapat beberapa instrumen kebijakan moneter dalam ekonomi Islam,  antara lain:

  • Kebijakan Dorongan Moral (Moral Suasion) : kebijakan yang berisikan sebuah pengumuman kepada seluruh bank umum untuk mengajak atau melarang untuk memberikan pinjaman tabungan ataupun pinjaman tabungan.
  • Lending ratio : kebijakan untuk memberikan pinjaman, Lending Ratio dalam hal ini yang artinya Qardhul Hasan (pinjaman kebaikan).
  • Profit Sharing : Ratio bagi untung yang harus ditentukan sebelum memulai bisnis. Bank Sentral menggunakan kebijakan dalam kebijakan moneter. Dimana ketika bank sentral menaikan jumlah uang yang beredar, maka keuntungan untuk nasabah juga ikut meningkat
  • Islamic Sukuk : pemerintah mengeluarkan obligasi, dimana ketika inflasi pemerintah akan mengeluarka sukuk lebih banya agar uang yang beredar tereduksi. Jadi sukuk berguna untuk mengurangi atau menambah uang yang beredar
  • Government Instrument Certificate : merupakan pengganti sertifikat  Bank Indonesia yang dikarenakan SBI memiliki bunga dan itu sangat dilarang dalam Bank Syariah
  • Reserve Ratio : Adalah suatu presentase tertentu dari simpanan bank yang harus dipegang oleh bank sentral, misalnya 5 %. Jika bank sentral ingin mengontrol jumlah uang beredar, dapat menaikkan Reserve Ratio misalnya dari 5 persen menjadi 20 % yang dampaknya sisa uang yang ada pada komersial bank menjadi lebih sedikit, begitu sebaliknya.
  • Refinance Ratio: Adalah sejumlah proporsi dari pinjaman bebas bunga. Ketika refinance  ratio meningkat, pembiayaan yang diberikan meningkat, dan ketika refinance  ratio turun, bank komersial harus hati-hati karena mereka tidak di dorong untuk memberikan pinjaman.

Penjualan atau pembelian sertipikat bank sentral dalam kerangka komersial, disebut sebagai Treasury Bills. Instrumen ini dikeluarkan oleh Menteri Keuangan dan dijual oleh bank sentral kepada broker dalam jumlah besar, dalam jangka pendek dan berbunga meskipun kecil. Treasury Bills ini tidak bisa di terima dalam Islam, maka sebagai penggantinya diterbitkan pemerintah dengan sistem bebas bunga, yang disebut GIC (Government Instrument Certificate).

Instrument yang di perlukan dalam kebijakan moneter Islam diharapkan tidak hanya akan membantu mengatur penawaran uang seirama terhadap permintaan rill terhadap uang, tetapi juga memenuhi kebutuhan untuk membiyayai defisit pemerintah yang benar-benar rill dan mencapai sasaran sosioekonomi masyarakat Islam lainnya. Terdapat sejumlah elemen untuk mengatur hal ini diantaranya (chapra, 2000):

  1. Target pertumbuhan dalam M dan MO
  2. Saham public terhadap deposito unjuk (uang giral)
  3. Cadangan wajib resmi
  4. Pembatas kredit
  5. Alokasi kredit (pembiyayaan ) yang berorientasi kepada nilai
  6. Instrumen factory (anjak piutang) yang baru populer tahun 1980-an telah dikenal dengan nama al-hiwalah, hanya bedanya al-hiwalah tidak menggunakan instrumen bunga.


Posisi  Bank Sentral dalam Islam

Bank sentral di dalam system ekonomi konvensional berguna sebagai lembaga yang bertanggung jawab mengatur kelancaran peredaran hingga penyaluran mata uang. Bank sentral pertama kalinya dibuat pada saat pembuatan mata uang kertas untuk menggantikan alat pembayaran sebelumnya yaitu emas. Bank sentral berfungsi untuk menstabilkan nilai mata uang dari inflasi.

Di dalam Islam, konsep bank sentral ini tidaklah digunakan dalam perekonomian. Perekonomian Islam didasarkan pada rasa saling menguntungkan antara dua pihak. Islam tidak memperbolehkan menggunakan bunga dan hukumnya adalah riba. Perbedaan bank sentral konvensional dengan bank sentral Islam yang secara syariah yaitu pada penempatan posisi kedua bank itu berbeda. Didalam bank sentral Islam, bank sentral Islam harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan prinsip dan ajaran Islam serta menolak yang di larang oleh agama. Bank sentral konvensional secara langsung membuat masalah seigniorage dan sekaligus mentransfer property riil dari pinjaman masyarakat kepada pihak yang berkuasa menjadikan ketidakadilan.

Manajemen Moneter Islam

Dasar pemikiran ini adalah terciptanya stabilitas permintaan uang dan mengarahkan pemerintahan uang tersebut kepada tujuan yang penting dan produktif sehingga, setiap instrument yang akan mengarahkan kepada instabilitas dan pengalokasian sumber dana yang tidak produktif akan di tinggalkan.Sesuai dengan ajaran Islam, manajemen moneter yang efisien dan adil tidak berdasarkan pada mekanisme bunga, melainkan dengan menggunakan instrumen utama yaitu:

  1. Value Judgement yang dapat menciptakan suasana yang memungkinkan alokasi dan distribusi sumber yang sesuai dengan ajaran Islam. Pada dasarnya sumber daya merupakan amanah dari Allah yang pemanfaatannya dilakukan secara efisien dan efektif. Berdasarkan nilai-nilai Islam, permintaan uang harus dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan investasi yang produktif bukan untuk konsumsi yang berlebihan, pengeluaran-pengeluaran non produktif dan spekulatif.
  2. Kelembagaan yang berkaitan dengan kegiatan social ekonomi dan politik yang salah satunya dapat menciptakan mekanisme harga yang dapat meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumber.
  3. Mekanisme lembaga perantara keuangan yang beroperasi berdasarkan system bagi hasil (profit dan loss sharing). Dalam system ini permintaan uang akan dialokasikan dengan syarat hanya untuk proyek-proyek yang bermanfaat dan hanya kepada debitur yang mampu mengelola proyek secara efisien. Dengan persyaratan tersebut diharapkan dapat meminimalisasikan permintaan uang untuk pemanfaatan tidak berguna, non produktif dan spekulatif. Selain itu dapat menciptakan masyarakat yang memiliki jiwa kewirausahaan sekalipun dari golongan miskin. Karena wirausahawan dapat menghasilkan output, perluasan kesempatan kerja dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Untuk menciptakan keseimbangan antara money demand dan money supply banyak pendekatan praktis yang dapat digunakan untuk memperkirakan permintaan uang yang konsisten dengan realisasi pencapaian tujuan sosio ekonomi dengan kerangka stabilitas harga dan kemudian memantapkan rentangan target pertumbuhan penawaran uang yang akan membantu tercapainya kecukupan permintaan ini secara memungkinkan. Pentargetan moneter sebanding dengan perputaran uang yang dapat diprediksikan secara nalar pada periode yang tepat.

Perbedaan Kebijakan Ekonomi Konvensional dan Ekonomi Syariah

Hampir semua instrument kebijakan moneter dalam pelaksanaan kebijakan moneter konvensional maupun surat berharga yang menjadi acuan itu semua mengandung unsur bunga. Oleh sebab itu semua instrumen konvensional yang mengandung unsur bunga tidak di gunakan dalam kebijakan moneter syariah. Tetapi ada beberapa kebijakan moneter konvensional yang masih dapat digunakan dalam kebijakan moneter syariah untuk mengontrol uang dan kredit, seperti  Reserve Requirement, overall and selecting credit ceiling, moral suasion and change in monetary base.

Dalam ekonomi islam, tidak mengenal system bunga sehingga Bank Sentral memerlukan instrument kebijakan moneter yang bebas dari bunga untuk mengontrol kebijakan moneter dalam ekonomi islam. Penghapusan system bunga oleh bank sentral untuk kebijakan ekonomi islam tidak menghambat untuk mengontrol jumlah uang yang beredar dalam ekonomi.

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS