Bank Syariah Sebuah Entitas Bisnis atau Jalan Menuju surga

Widia

(Direktur Utama BPRS Arta Leksana)

Pembahasan materi tentang bank syariah sering membawa pembahasan itu pada kesimpulan atau pertanyaan-pertanyaan baru yang menarik. Salah satu pertanyaan bagus yang di lontarkan seorang dosen ekonomi senior adalah sebagai berikut : “Bank Syariah sebetulnya sebuah entitas bisnis atau jalan menuju sorga?”

Pertanyaan ini dilontarkan beliau dalam diskusi hangat dan penuh semangat di kantor Bank Indonesia Purwokerto. Beliau bertanya, setelah pemateri dengan panjang lebar menerangkan tentang kaidah fiqih bank syariah. Betapa selama ini oprasional bank syariah masih jauh dari harapan. Betapa bank syariah masih memakai kaca mata bank konvensional dalam menjalankan seluruh aspek bisnis. Dari sisi hitungan angka, manajemen SDM, hingga kepada brand image yang diusung.

Sebagai seorang praktisi bank syariah yang masih dalam taraf belajar, diskusi ini membawa dua kesimpulan pemahaman bagi saya yaitu :

1.    Pemahaman bank syariah murni sebagai entitas bisnis

2.    Pemahaman bank syariah sebagai wujud nyata dakwah bil haal dalam hal ekonomi syariah.

Kesimpulan saya mungkin salah namun sebagai praktisi, saya merasakan betul dualisme penilaian tentang bank syariah ini.

Dalam kaca mata saya, pihak otoritas dalam hal ini OJK, jaman dahulu BI, mempunyai pengertian bank syariah, murni sebagai entitas bisnis saja. Titik. Sehingga tidak menjadi masalah jika pelaku bisnisnya tidak beragama Islam. Tidak menggunakan busana muslim. Atau aturan lain yang ada kaitannya dengan hukum-hukum agama Islam. Karena bank syariah adalah sebuah sistem, dalam hal ini sistem non bunga atau sistem bagi hasil yang bisa dimanfaatkan siapa saja yang merasa cocok dan ingin memilih transaksi berdasarkan sistem ini. Bank syariah sebagai entitas bisnis tidak membawa aqidah dalam oprasionalnya. Islamic Bank of London, pasti hanya segelintir bankirnya yang beragama Islam.

Dalam kaca mata saya, bank syariah sebagai entitas bisnis diwakili oleh Bank Umum Syariah. Dalam sebuah surat kabar, saya membaca ada penelitian yang menyebutkan 70% pimpinan Bank Umum Syariah adalah praktisi dari Bank Konvensional. Jika bank ini masih dalam bentuk Unit Usaha Syariah, banyak Direktur Utama bank Induknya non muslim.

Apakah keadaan ini menjadi “tidak pas” atau tidak “sesuai syariah?”. Jika bank syariah dinilai murni sebagai entitas bisnis semata, maka tidak ada yang salah dalam hal ini. Justru dalam kondisi ini bank syariah mampu menampilkan sisi hebatnya sebagai sebuah sistem yang benar-benar rahmatan lill alamin. Anda tidak harus bersahadat untuk bertransaksi di bank syariah. Seperti nabi yang dipercaya orang-orang yahudi untuk menitipkan barang-barangnya, siapapun anda, Muslim, Kristen Hindu, Budha, sangat boleh bertransaksi di perbankan syariah.

Lalu bagaimana dengan pengertian bank syariah sebagai salah satu dakwah bil haal yang membawa ghiroh agama Islam dalam oprasionalnya?

Pengertian ini pernah saya diskusikan dengan seorang kyai yang membuat saya sedikit gagap. Beliau balik bertanya kepada saya tentang beberapa hal yang saya sendiri tidak cukup pantas untuk menjawab.
Pertanyaan beliau diantaranya adalah sebagai berikut :

“Jika kamu membawa ghiroh agama Islam, dalam hal ini tentang masalah harta, apa kamu siap dengan pengertian bahwa harta bagi manusia itu sekedar titipan saja. Tidak hak mutlak kita. Ada nggak nasabahmu yang depositonya mau berkurang karena kamu pake sistem bagi hasil? Siap tidak mereka menanggung kerugian? Siap tidak bankmu tidak menarik agunan kalau berakad bagi hasil karena dalam sistem bagi hasil, agunan itu tidak perlu? Bisa tidak bankmu punya gudang yang besar karena semua barang yang akan kamu jual lagi kepada nasabahmu harus kamu kuasai dulu? Siap tidak kamu tidak di gaji kalo bankmu masih rugi?

Sebagai praktisi yang masih kurang ilmu saya makin bingung dengan pertanyaan pak Kyai kepada saya. Apalagi sekarang timbul paham baru yang menyuarakan bahwa bank syariah juga riba dengan dalil-dalil versi mereka.

Saya tercenung dengan berbagai kedaan yang di hadapi seluruh praktisi bank syariah di Indonesia. Di satu sisi, kesadaran kami sudah pasti harus memajukan bank syariah. Kami selalu berusaha meng up grade ilmu dari sisi syariah dan dari sisi aturan pemerintah hampir sepanjang waktu. Tapi berdebatan tentang bank syariah tak kunjung usai. Hujatan dan cemoohan juga makin kencang. Maka dalam keterbatasan ilmu saya, saya selalu mengingat nasihat kyai saya kepada saya :

“Tetaplah belajar tentang fiqih muamalah, taati aturan dari otoritas yang mengawasimu. Ingatkan SDM agar selalu bersikap jujur, kamu harus tahu, penonton sepak bola selalu merasa lebih pintar dari pemainnya. Kalo kamu dapat nasabah sedikit syukuri, karena kamu berdawah tentang materi itu berat. Siapa yang iklas menerima hartanya itu milik Tuhan? Tidak ada yang iklas”.

Tausiah dari pak Kyai selalu membuat semangat kami terus berkobar. Biarlah yang bisa menghakimi akan terus lantang bicara. Kami hanya tahu harus terus bergerak dalam segala keterbatasan. Apakah pelayanan kami masih jauh dari harapan. Kami menyadari dalam proses belajar tanpa akhir. Tapi bagi kami, memutuskan akad murabahah saja sudah sulit. Karena DPS kami sangat faham fiqih muamalahnya. Kami belum boleh mengeluarkan akad ijarah multi jasa karena banyak hal yang sulit di penuhi.

Pernah pengawas kami menegur karena ROA dan ROE bank kami kurang menggembirakan sebagai sebuah industri. Sebabnya kami menerapkan sistem flat murni dan banyak melakukan muqosah sehingga terkadang keuntungan menjadi tidak maksimal.

Biarlah kami dengan kesadaran kami.Bicara itu memang mudah tetapi kami sudah mulai bergerak dengan kesadaran penuh untuk senantiasa memperbaiki diri.

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS