Raja Salman dan Halal Tourism

 

Menteri Pariwisata Arief Yahya *)

 

Untuk mengembangkan halal tourism di Tanah Air, kita menetapkan 10 destinasi utama wisata halal yang terdiri dari Aceh, Sumatera Barat, Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Lombok/NTB, dan Sulawesi Selatan.  Namun, untuk saat ini kita masih fokus di 5 destinasi yaitu Aceh, Sumatera Barat, Lombok, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Dengan melihat peluang dan tantangan tersebut, saya merumuskan tiga strategi utama untuk mempercepat pengembangan halal tourism. Apa saja itu?

Pertama, Global Leadership. Seharusnya untuk halal tourism, Indonesia lah yang menjadi leader-nya. Untuk itu di setiap pertemuan maupun lomba-lomba kita harus menjadi champion.

Kita sudah menyabet 12 dari 16 kategori penghargaan di WHTA 2016 dan International Travel Week 2016 di Abu Dhabi. Tahun kemarin kita juga telah menyelenggarakan kompetisi pariwisata halal dengan 14 kategori yang dilombakan dan diperuntukkan tidak hanya bagi destinasi tapi juga termasuk hotel, bandara hingga biro perjalanan.

Kita juga harus terus meningkatkan peringkat kita dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) sebagai standar global dalam menilai daya saing halal tourism. Di 2014 posisi kita di peringkat 6, tahun 2015 peringkat 4, saya harapkan menjadi peringkat 1 pada 2019 nanti.

Ada beberapa kriteria yang harus menjadi perhatian kita untuk meningkatkan daya saing. Kita kuat (top 3) dalam hal: lingkungan yang aman untuk berwisata, akses yang mudah untuk beribadah, dan bebas visa kunjungan. Ini yang harus terus kita tingkatkan. Sedangkan kelemahan yang harus kita benahi (bottom 3) adalah: jumlah kedatangan wisman muslim dimana kita masih kalah dari Malaysia dan Thailand, kemudahan berkomunikasi, dan konektivitas transportasi udara.

Selain itu, untuk memperkuat posisi kita sebagai pemimpin global untuk halal tourism beberapa langkah berikut ini kita lakukan. Pertama, melaksanakan tugas Indonesia sebagai koordinator Pengembangan Pariwisata Halal di negara-negara OKI (ICTM). Kedua, pembahasan dan lobby sesama stakeholder industri pariwisata halal. Ketiga, terlibat pada event-event halal tourism dan event-event mainstream tourism, serta penyelenggaraan acara International Halal Tourism Summit.

Kedua, Strategi pemasaran dengan mengunakan model Destination, Origination dan Time (DOT) yang sudah kita rumuskan. Destinasi (Destination) mana yang mau kita tawarkan, originasi/pasar (Origination) mana yang akan kita bidik, dan kapan mereka akan melakukan apa (Time), harus kita rumuskan secara detail. Untuk strategi promosi kita menggunakan model Branding, Advertising dan Selling (BAS). Sementara untuk strategi media kita menggunakan model Paid, Owned, Social media dan Endorser (POSE). Beruntung kedatangan Raja Salman bisa segera kita manfaatkan sebagai endorser untuk pariwisata kita, terutama halal tourism.

Untuk menjalankan semua strategi ini kita membuat materi promosi wisata halal yang ditayangkan di website utama kita Indonesia.travel/halaltourism dan semua media partner kita untuk branding. Selanjutnya adalah mengintegrasikan program kampanye pariwisata halal baik di dalam maupun luar negeri melalui PR-ing, influencer, hingga digital marketing. Sedangkan untuk kepentingan selling, kita berpartisipasi dalam event-event halal tourism dan event-event mainstream tourism, sales mission, dan fam trip.

Ketiga, Pengembangan Destinasi dan Kelembagaan. Kita mengembangkan dan menguatkan daya saing atraksi dan produk untuk semakin menancapkan negara kita sebagai destinasi utama halal tourism di dunia. Program-program yang dilakukan antara lain pengembangan destinasi dan industri halal tourism dan peningkatan kapasitas pelaku industri. Selanjutnya kita menguatkan ekosistem pariwisata halal dengan memberi masukan perbaikan dan pengembangan kepada seluruh stakeholder pariwisata, menyiapkan kurikulum pelatihan bagi SDM pariwisata halal, dan tentunya kita edukasi masyarakat untuk semakin peduli dengan halal tourism.

Lalu, bagaimana implementasi di lapangan?

Quick Win

Dalam setiap implementasi, bagi saya quick win merupakan faktor kunci. Karena itu dalam pengembangan pariwisata halal ini pun kita menetapkan quick win yang diterapkan di 5 destinasi utama yaitu Lombok, Sumbar, Aceh, Jawa Barat dan Jakarta. Quick win yang dilakukan mencakup 3 aspek yaitu: program pemasaran, pengembangan destinasi, maupun pengembangan SDM dan industri.

Untuk program pemasaran saya beri contoh quick win yang dilakukan di Lombok. Di destinasi halal utama ini branding-nya adalah Friendly Tourism dengan mempromosikan Lombok sebagai “World Best Halal Tourism Destination”. Untuk advertising kita promosikan event-event yang terkait seperti  Wonderful Muharram Festival, Pesona Tambora, dan Bulan Budaya Lombok Sumbawa. Sementara kegiatan selling dilakukan dengan mengikuti World Halal Travel Mart, sales mission, dan fam trip.

Untuk pengembangan destinasi mencakup 3 aspek yang sebut 3A yaitu: atraksi, aksesibiltas dan amenitas. Atraksi yang kita garap antara lain: muslim-friendly beach, Kota Tua Ampenan, dan lighting system masjid Islamic center.

Untuk mendukung aksesibilitas terakhir kita membuka direct flight dari pasar utama (Singapura dan Malaysia) ke Lombok International Airport. Kita juga membuat muslim-friendly signage dan tourism information center (TIC) yang muslim-friendly di bandara.

Sedangkan untuk amenitas kita mengembangkan hotel beragam segmen: model high-end (Oberoi Hotel), model middle (Svarga Resort Villa), dan model low-end (Kuta Homestay). Untuk pengembangan SDM dan industri kita membuat sertifikasi untuk tour guide dan tour planner berbahasa Arab 100 orang. Kita juga lakukan sertifikasi untuk usaha hotel.

Di akhir CEO Message ini saya ingin menegaskan, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia sudah seharusnya kita menjadi world’s leader dalam hal halal tourism. Kita jadikan kunjungan Raja Arab Saudi dua minggu ini sebagai momentum kebangkitan pariwisata halal kita.

 

*) disadur dari web kemenpar.go.id

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS