Saham Indopora Masuk Efek Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan terkait dengan penetapan Efek Syariah yaitu tentang penetapan saham PT Indonesia Pondasi Raya Tbk sebagai Efek Syariah.

Menurut Deputi Komisioner Pasar Modal II OJK M Noor Rachman, dengan dikeluarkannya Keputusan Dewan Komisioner OJK tersebut, maka Efek tersebut masuk ke dalam Daftar Efek Syariah sebagaimana Keputusan Dewan Komisioner OJK terkait.

Dikeluarkannya keputusan tersebut adalah sebagai tindak lanjut dari hasil penelaahan OJK terhadap pemenuhan kriteria Efek Syariah atas Pernyataan Pendaftaran yang disampaikan oleh PT Indonesia Pondasi Raya Tbk. "Sumber data yang digunakan sebagai bahan penelaahan berasal dari dokumen Pernyataan Pendaftaran serta data pendukung lainnya, berupa data tertulis  yang diperoleh  dari Emiten, maupun dari pihak-pihak lainnya yang dapat dipercaya," kata dia dalam keterangannya.

Secara periodik, OJK akan melakukan review atas Daftar Efek Syariah berdasarkan Laporan Keuangan Tengah Tahunan dan Laporan Keuangan Tahunan dari Emiten atau Perusahaan Publik. Review atas Daftar Efek Syariah juga dilakukan apabila terdapat Emiten atau Perusahaan Publik yang Pernyataan Pendaftarannya telah menjadi efektif dan memenuhi kriteria Efek Syariah, atau apabila terdapat aksi korporasi, informasi, fakta dari Emiten atau Perusahaan Publik yang dapat menyebabkan terpenuhi atau tidak terpenuhinya kriteria Efek Syariah.

PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (Indopora) akan melakukan penawaran umum saham perdana (Initial public offering/IPO) dengan melepas 303 juta saham atau setara 15,3 persen di kisaran harga Rp 1.280-1.920 per saham. Dana yang ditargetkan mencapai Rp 380-560 miliar."Dana IPO seluruhnya untuk ekspansi usaha, tidak ada untuk membayar utang," kata Presiden Direktur Indonesia Pondasi Raya Febyan di sela paparan publik perseroan di Jakarta, (16/11).

Peruntukan IPO tersebut, sebesar 10% untuk modal kerja anak usaha PT Rekagunatek Persada, sebesar 32,4% untuk modal kerja operasional proyek, 40% untuk pembelian aset tetap seperti mesin pekerjaan fondasi, dan sisanya 17,6% untuk pembelian tanah yang diperuntukan kantor dan pool.

Perusahaan yang memfokuskan pada pondasi infrastruktur ini menargetkan pendapatan 2015 sebesar Rp 1,4 triliun dengan laba bersih Rp 227 miliar. Adapun kontrak ditargetkan hingga akhir tahun ini mencapai Rp 1,2 triliun. Dari total target kontrak tersebut, sekitar Rp 300 miliar merupakan kontrak bawaan (carry over). Sementara pada 2014, pendapatan perseroan mencapai Rp 1,27 triliun dengan laba bersih Rp 188 miliar.

Berdiri pada tahun 1977, Indonsia Pondasi Raya mengerjakan pondasi untuk gedung tinggi (high risk building) dan proyek infrastruktur lainnya, seperti jembatan. Proyek-proyek tersebut didapat (sub kontrak) dari PT Wijaya Karya, PT Adhi Karya dan perusahaan lainya. Saat ini sekitar 90% fokus perusahaan ke high risk building, ke depan akan mixed.

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS