Penerbitan SBSN Cenderung Meningkat

Dari tahun ke tahun, penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) terus mengalami peningkatan. Kalau dilihat statistiknya, penerbitan SBSN pada 2008 sebesar Rp4,66 triliun, 2009 Rp16,55 triliun, 2010 Rp26,96 triliun, 2011 Rp33,30 triliun, kemudian pada 2012  Rp57,08 triliun, 2013 Rp53,17 triliun dan 2014 Rp75,46 triliun. Pada tahun ini, hingga 31 Maret sudah diterbitkan Rp 42,73 triliun.

Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan Suminto, mengatakan, perkembangan SBSN yang cukup pesat ini tentu didorong oleh berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah, misalnya penyiapan infrastruktur yang dibutuhkan, inovasi pengembangan instrumen, maupun perluasan basis investor. "Dalam konteks infrastruktur legal, setelah ditetapkannya UU No. 19/2008 tentang SBSN, berbagai perangkat pengaturan teknis yang diperlukan telah disiapkan," kata dia kepada wartawan di Jakarta.

Infrastruktur syariah yang mendukung SBSN juga disiapkan dengan baik bersama DSN MUI. Hingga saat ini telah ditetapkan enam fatwa dan satu ketetapan DSN MUI terkait SBSN. Dalam konteks inovasi pengembangan instrumen, telah dikembangkan berbagai seri SBSN seperti SR (Sukuk Ritel) yang diperuntukkan untuk investor individu warga negara Indonesia, Global Sukuk(Sukuk Negara Indonesia/SNI) yang diterbitkan dalam denominasi US dolar di pasar internasional, seri IFR (Islamic Fixed Rate) dan PBS (Project Based Sukuk) yang diterbitkan untuk investor institusi melalui lelang secara reguler (dwi-mingguan), seri SPN-S yang merupakan SBSN dengan tenor pendek (di bawah 1 tahun), dan seri SDHI (Sukuk Dana Haji Indonesia) yang dikhususkan untuk penempatan dana haji oleh Kementerian Agama.

Struktur akad SBSN juga terus dikembangkan, hingga saat ini telah diterapkan ijarah sale and lease back, ijarah asset to be leased, ijarah al khadamat, dan wakalah. Paralel dengan pengembangan struktur akad SBSN itu, underlying asset SBSN juga dapat diperluas dari semula hanya barang milik negara (BMN) berupa tanah dan bangunan, sekarang dipergunakan pula proyek/kegiatan APBN diberbagai Kementerian/Lembaga. Selanjutnya, perluasan basis investor, domestik maupun asing, ritel maupun institusi, terus dilakukan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan seperti edukasi, sosialisasi, investor update, road show, dan publikasi.

Per 30 Maret 2015, posisi outstanding SBSN adalah sebesar Rp243,86 triliun, yang terdiri dari berbagai mata uang dan seri. Dari outstanding SBSN sebesar Rp243,86 triliun itu, Rp178,43 dalam denominasi rupiah dan Rp65,43 triliun dalam denominasi US dolar. Dari sisi seri, seri IFR Rp16,59 triliun, seri PBS Rp53,24 triliun, seri SR Rp69,87 triliun, seri SNI Rp65,43 triliun, seri SPN-S Rp5,53 triliun, dan seri SDHI Rp33,20 triliun. Dari segi tradability, dari outstanding SBSN sebesar Rp243,86 triliun itu, Rp210,66 triliun dapat diperdagangkan (tradable) sementara sisanya sebesar Rp33,20 triliun (seri SDHI) tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Jumlah penerbitan SBSN setiap tahun merupakan bagian dari jumlah neto penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) yang disetujui DPR dalam APBN.Adapun komposisi jumlah SBSN dan SUN (Surat Utang Negara/SBN konvensional) yang akan diterbitkan sesuai dengan kebijakan pengelolaan portofolio utang dan mempertimbangkan daya serap pasar untuk masing-masing instrumen.Adapun realisasi penerbitan SBSN sampai dengan 30 Maret 2015 mencapai Rp42,7 triliun. Perinciannya, project based sukuk Rp17,76 triliun, sukuk ritel Rp21,96 triliun dan SPN Syariah Rp3 triliun. (her)

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS