Bank Syariah Harus Kompetitif

Meski sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tetapi asset perbankan syariah di Indonesia masih berada di bawah bank konvensional. Itulah sebabnya agar bisa memenangkan persaingan, bank syariah harus lebih kompetitif.

Menjadikan kompetitif artinya menjadi sistem bukan hanya halal dan haram. Melain meningkatkan persaingan lebih baik. Prinsip memenangkan persaingan adalah lebih baik, lebih murah dan lebih cepat. “Kalau bank syariah lebih mahal bagaimana menarik peminatnya?” ucap Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika membuka Muktamar Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia ke-3 di Gedung Danapala Kementerian Keuangan, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan kompetitif berarti membawa sistem ini ke sistem yang lebih umum. Sehingga mudah dipahami dan menggunakan bahasa yang umum. “Jangan merasa Islam itu hanya menjadi bahasa Arab. Di Malaysia berhasil karena umum,” ucap Wapres.

Wapres menjelaskan mengapa perkembangan ekonomi Islam di Indonesia terlambat dibanding Malaysia. Malaysia memulai institusi ekonomi Islam melalui tabungan haji pada tahun 1963 dengan metoda bagi hasil. Bagi hasil sebenarnya sama dengan joint venture atau ventura. “Ventura itu syar’i,” kata Wapres.

Oleh karena itulah mengapa begitu pentingya penggunaan bahasa Indonesia agar istilah yang digunakan mudah dikenal oleh masyarakat dibandingkan penggunaan istilah bahasa Arab dalam ekonomi Islam. Selain itu juga, tidak ada yang bertentangan satu sama lain. “Tidak ada pertentangan konvensional dan syariah,” kata Wapres.

Pada abad modern, ekonomi Islam lebih terbuka ketika oil shock terjadi pada tahun 1973 setelah perang Palestina. Setelan negara-negara Timur Tengah menjadi OPEC kemudian terjadi embargo minyak yang menimbukan shock di dunia. Saat itu Amerika Serikat mengalami inflasi dan Jepang juga kerepotan. Akibat peristiwa ini menunjukkan bahwa negara-negara Islam mempunyai kekuatan besar. “Timbullah dan mulailah ekonomi islam berjalan,” kata Wapres.

Peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat menyebabkan negara-negara di benua Amerika dan Eropa mencurigai kekuatan ekonomi Islam. Akibat kecurigaan ini, mendorong keinginan dari negara-negara Islam untuk menjadi kekuatan sendiri.

Saat terjadi krisis 2008, menunjukkan sistem perbankan syariah yang diterapkan di beberapa negara Islam menunjukan ketahanan dari krisis dibandingkan dari sistem perbankan negara-negara barat.

Setelah perisitwa-peristiwa di atas itu, sistem syariah berkembang karena penerapan syariah bukan namanya. Untuk menjual sistem ini, maka istilah-istilah yang digunakan harus dipahami masyarakat luas. “Kebijakan yang lebih berpihak dengan member insentif. Jangan pula bank syariah memberi biaya tinggi,” kata Wapres.

Sementara seiring dengan perubahan kualitasnya, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro optimis bahwa potensi keuangan syariah akan terus membesar. “Walau pangsanya masih di bawah 10%, namun kita akan membangun aliansi strategis agar semakin berkembang,” tuturnya. Selain itu, penilaian peringkat lembaga keuangan syariah ini juga berdampak pada Indonesia yang dipercaya untuk menjadi tuan rumah World Islamic Economic Forum (WIEF) 2016.

Forum tersebut akan dihadiri oleh para penanam modal dari seluruh dunia, termasuk dari negara-negara Islam yang memiliki kelebihan dana untuk diinvestasikan. Melihat hal tersebut, pemerintah akan mulai ambil andil untuk implementasi kebijakan serta arahan strategis otoritas keuangan dan kementerian terkait keuangan syariah. (her)

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS