Pertumbuhan Bank Syariah di Jateng Turun

Pertumbuhan perbankan syariah di Jawa Tengah cukup membanggakan karena berhasil mencapai angka enam persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan nasional yang hanya 4,7%. Meski begitu, perbankan syariah di Jawa Tengah tidak boleh berleha-leha karena pada lima bulan pertama di awal 2015, pertumbuhannya turun 1,6%.

"Angka nasional di 4,7% sharenya, untuk Jawa Tengah kita cukup bangga karena share kita diatas 6%. Namun kita jangan berleha-leha karena 5 bulan pertama pertumbuhannya minus 1,6%," kata Kepala OJK Regional V Wilayah Jawa Tengah Y Santoso Wibowo dalam pembukaan IB Vaganza 2015 dengan tema 'Serunya Bertransaksi Syariah' di Mall Ciputra Land, seperti dilansir jatengprov.go.id.

Kegiatan IB Vaganza diharapkan bisa membangkitkan kembali pertumbuhan bank syariah sekaligus meningkatkan popularitasnya. Dengan begitu, Indonesia bisa menjadi pusat studi dan riset pengembangan syariah. Santoso berpendapat Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia seharusnya mampu menjadi negara yang memiliki jumlah nasabah bank syariah yang terbesar pula. Namun saat ini, perkembangan syariah terbesar justru di London. Sedangkan di lingkungan ASEAN, pusat studi dan pengembangan perbankan syariah berada di Malaysia.

"Di lingkungan ASEAN, pusat studi dan pengembangan perbankan syariah itu ada di Malaysia seharusnya ada di kita. Bahkan Singapura bertekad menjadi pasar keuangan syariah di Asia, tidak hanya Asia Tenggara," terangnya.

Untuk meningkatkan pertumbuhan bank syariah, lanjutnya, OJK meminta para pelaku perbankan syariah lebih giat meluaskan cakupannya dengan cara door to door seperti yang dilakukan di awal pembentukannya di tahun 1992. Menurutnya, perbankan syariah lebih baik dari perbankan konvensional karena produk yang dihasilkan sama persis. Bahkan keuntungan dari perbankan syariah menggunakan sistem bagi hasil yang lebih adil bagi bank maupun nasabah.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sepakat dengan pendapat Santoso. Perbankan syariah harus melakukan jemput bola kepada para pelaku usaha kecil menengah untuk meningkatkan transaksi syariah.

Menurut Ganjar, situasi krisis ekonomi saat ini dapat menjadi sebuah peluang bagi perbankan syariah untuk melakukan pendampingan usaha kecil menengah karena mereka masih mengeluhkan keterbatasan 'suntikan' dana. Sementara, untuk mendapatkan modal dari perbankan syariah mereka biasanya takut dengan suku bunganya yang tinggi.

"Industri kecil menengah harus kita garap karena mereka yang rata-rata yang punya local content tertinggi. Hari ini mereka biasanya kesusahan mendapat suntikan dana atau permodalan. Inilah kesempatan bank pola syariah bisa masuk," kata Ganjar.

Untuk menarik minat para pelaku UMKM, bank syariah diminta tidak hanya melakukan sosialisasi namun juga inovasi seperti memberikan edukasi dan insentif atau hadiah. Harapannya, mereka memahami keuntungan bagi hasil yang tidak dimiliki bank konvensional dan juga mendapat kemudahan dalam menjalankan usahanya karena mendapat bimbingan dalam berbisnis.

"Bank syariah harus gas pol. Gas pol sosialisasi, gaspol mendekati pengusaha, gas pol membuat pendidikan atau edukasi untuk masyarakat agar mereka mengetahui dan menggunakan perbankan syariah," ujarnya.

Selain UMKM, Ganjar juga mendorong bank syariah untuk melakukan pendampingan modal kepada petani dan peternak. Dirinya mencontohkan, mendekati lebaran haji ini banyak peternak sapi/ kambing yang butuh modal untuk membeli hewan kurban. Jika ada bantuan modal dari bank syariah, maka kedua belah pihak akan sama-sama mendapat keuntungan dengan cepat. Untuk jangka panjang, bank syariah diminta dapat merangkul TKI/TKW yang sudah kembali ke Tanah Air dengan membantu membuatkan komunitas bagi mereka. Dalam komunitas itu mereka bisa dilatih suatu ketrampilan yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru.

"TKI/TKW di Hongkong, Taiwan uangnya di sana banyak. Hampir Rp 250 juta, namun sampai disini mereka bingung mau kerja apa, tidak ada yang menuntun. Nah kalau duitnya bisa dimasukkan, dibiayai, dilatih dengan CSR misalnya maka mereka bisa maju," jelasnya memberi masukan.

Sebagai informasi, IB Vaganza yang diselenggarakan di Kota Semarang adalah yang kesembilan setelah sebelumnya digelar di Kota Surakarta, Mataram, Banjarmasin, Purwokerto, Makasar, dan Depok. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan Pasar Keuangan Syariah yang sudah dicanangkan oleh Presiden RI Ir H Joko Widodo pada 14 Juni 2015 lalu. Kota Semarang dipilih karena di tahun 2013 Semarang memperoleh target tertinggi dengan jumlah nasabah baru sekitar 5.600 orang. Pada tahun ini jumlah nasabah baru yang ditargetkan bertambah menjadi 10.000 orang. (her)

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS