BI Susun Strategi Islamic Financial Inclusion

Keberadaan penduduk muslim sebagai mayoritas di  Indonesia, belum didukung dengan penetrasi perbankan syariah dalam memfasilitasi  transaksi keuangan masyarakat. Kondisi ini disebabkan karena masih rendahnya pangsa perbankan syariah di Indonesia, yakni sebesar  4,7% per Agustus 2015.

Masih  banyak penduduk  muslim di  Indonesia  yang merupakan unbanked.Sementara di sisi lain,kebutuhan transaksi keuangan ritel dikalangan masyarakat muslim  semakin meningkat, khususnya  untuk  pembayaran Wakaf, Infak dan Shadaqah. "Mencermati berbagai  faktor  tersebut, kami memandang  bahwa pengembangan layanan  non  tunai  sebagai  bagian  dari  upaya  perluasan akses keuangan  di kalangan umat muslim, merupakan suatu keniscayaan," papar Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas saat memberikan sambutan dalam Seminar  “Layanan Non Tunai untuk Pembayaran Wakaf, Infak, dan Shadaqah”, di Surabaya.

Dia menjelaskan, dalam kerangka kebijakan  keuangan  inklusif  Bank Indonesia, pihaknya telah menyusun strategi Islamic Financial Inclusion (IFI), sebagai bagian dari grand design perluasan akses keuangan. IFI dapat berperan sebagai sarana perluasan ekosistem  Layanan Keuangan Digital (LKD), melalui peranan sektor informal seperti Islamic Center, jaringan  mesjid, serta pondok pesantren termasuk unit-unit usaha yang dimiliki oleh pesantren.

Menurutnya, sektor  informal tersebut mempunyai peran besar dalam menciptakan ketertarikan masyarakat terhadap layanan non tunai  yang tersedia,dan perlahan mulai mengenal untuk kemudian mencoba bertransaksi dengan layanan dimaksud.

Selain itu, kemauan masyarakat untuk membuka diri dan mencoba bertransaksi keuangan, diharapkan dapat menjadi entry point yang strategis untuk melakukan edukasi keuangan, khususnya terkait transaksi non tunai yang mengarah kepada ekonomi berbasis teknologi/digital. Ke depannya, masyarakat diharapkan tidak hanya mahir bertransaksi keuangan, melainkan juga memiliki pengelolaan keuangan yang handal.

Dalam pengembangan  konsep  non tunai  untuk  mendukung  transaksi  keuangan syariah, Bank Indonesia memfokuskan pada tiga aspek utama. Pertama, pengembangan instrumen/layanan non  tunai dilakukan dengan mengacu  pada  prinsip  syariah,dan sesuai dengan karakteristik masyarakat muslim.

Kedua, pengembangan  dilakukan dengan berbasis  pada  inovasi  sebagai  motor (innovative  driven). Sedangkan ketiga, dukungan ekosistem  e-payment  merupakan faktor penting untuk menjaga keberlangsungan layanan non tunai,karena dapat membuat transaksi keuangan menjadi lebih mudah diakses dan efisien.

Dengan ketiga   aspek   tersebut,   diharapkan   layanan   non   tunai   mampu memfasilitasi transaksi   keuangan syariah   diantaranya  Wakaf,   Infak   dan  Shadaqah,  agar  semakin  efisien  namun  tetap  sesuai  dengan  prinsip  syariah.  Lebih jauh, penyediaan layanan non tunai untuk pembayaran Wakaf, Infak dan  Shadaqah   diharapkan   dapat   meningkatkan   pemahaman   dan   pengalaman  masyarakat dalam bertransaksi non tunai.

Selanjutnya, BI mengharapkan dukungan dari seluruh pihak terkait, dalam rangka mensukseskan upaya implementasi layanan non tunai terhadap transaksi retail syariah. Melalui komunikasi yang baik, koordinasi yang intensif, serta kolaborasi sinergis antara Bank Indonesia, Pemerintah, otoritas terkait, lembaga amil zakat, pondok pesantren dan pelaku industri sistem pembayaran. "Kami meyakini awareness dan kesediaan masyarakat untuk menggunakan layanan non tunai yang sesuai dengan prinsip syariah dalam aktivitas ekonomi sehari-hari, akan meningkat," tutur dia. (her)



BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS