BI Bersinergi dengan Lembaga Syariah

Bank Indonesia (illustrasi)

Pada 31 Maret 2015 sampai dengan 2 April 2015 Bank Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tahunan International Financial Services Board (IFSB) di Jakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh 44 negara anggota IFSB yang terdiri dari bank sentral, otoritas jasa keuangan dan intitusi keuangan syariah.

Mengawali rangkaian acara pertemuan tahunan tersebut, Bank Indonesia (BI) bersama Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman/ MOU dalam rangka penguatan kerjasama dan koordinasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

“Penandatanganan MOU ini merupakan tonggak awal sinergi BI dengan lembaga-lembaga nasional syariah dalam rangka pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia,” jelas  Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi, Tirta Segara, dalam keterangan tertulisnya (30/3).

Kerjasama dengan DSN-MUI diperlukan antara lain untuk dukungan penetapan fatwa dan konsultasi pemenuhan prinsip-prinsip syariah atas instrumen serta usulan kebijakan BI yang terkait keuangan syariah. Sedangkan kerjasama dengan BAZNAS dan BWI terutama untuk memfasilitasi kedua lembaga ini dalam penguatan kualitas tata kelola dan sumber daya insani lembaga zakat dan wakaf di Indonesia.

Penandatangan kerjasama ini merupakan tindak lanjut dari penandatangan MOU yang telah dilakukan bersama Islamic Research & Training Institute – Islamic Development Bank (IRTI-IDB) pada acara seminar internasional negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada November 2014 di Surabaya dan inisiasi pembentukan International Working Group on Zakat Core Principles (IWG – ZCP) yang telah dilakukan Bank Indonesia pada Agustus 2014 yang lalu.

Ruang lingkup kerjasama keempat lembaga ini meliputi technical capacity building untuk peningkatan soft skills sumber daya insani, tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) dan infrastruktur penunjang, riset optimalisasi zakat dan wakaf, serta edukasi dan sosialisasi sektor ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Sinergi nasional ini pada akhirnya diharapkan dapat menguatkan lembaga zakat dan wakaf serta institusi keuangan syariah melalui dukungan regulasi DSN – MUI. Selain itu, sinergi ini juga diharapkan akan mampu mendorong setiap sektor ekonomi yang memiliki potensi untuk meningkatkan kemampuannya. Tidak hanya dalam mendukung program pembangunan ekonomi yang berkesinambungan, namun juga mendorong tercapainya financial inclusion melalui penguatan basis produksi yang lebih luas serta perluasan akses masyarakat terhadap jasa keuangan syariah.

Sementara, Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Didin Hafidhuddin mengatakan, besarnya potensi zakat dan wakaf di Indonesia, apabila dikelola dengan baik bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin.

Untuk itu, dia menyarankan, perlu adanya lembaga yang bisa mengelola zakat dan wakaf dengan baik agar penyalurannya bisa lebih optimal. Menurut data Baznas, potensi zakat pada 2014 mencapai Rp270 triliun dan realisasinya sebesar Rp. 2,5 triliun.

"Di samping digunakan untuk konsumtif, zakat bisa digunakan untuk produktif, yaitu bagaimana zakat produktif bisa mengangkat derajat kaum mustahiq (penerima zakat) menjadi kaum muzakki (pemberi zakat) selama satu hingga dua tahun ke depan," ujarnya.

Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) Maftuh Basyuni mengatakan, potensi wakaf di Indonesia lebih dari 4 miliar meter persegi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia."Kalau ini diberdayakan, sangat luar biasa hasilnya. Belum lagi ditambah zakat," kata Maftuh. (her)

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS