Bank Muamalat Perluas Pembiayaan KPR

2015, Bank Muamalat

Pembiayaan hunian masih menjadi primadona perbankan dalam menyalurkan pembiayaan ritel, tidak terkecuali dengan perbankan syariah. Tidak hanya dilakukan sendiri, populernya produk consumer tersebut membuka peluang kerjasama antar institusi untuk menggarap pasar ini. Hal ini dilakukan Bank Muamalat dengan kembali menjalin kerjasama dengan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) guna memperluas pembiayaan melalui produk KPR yang dimilikinya.

Naskah kerjasama ditandatangani oleh Direktur Utama Bank Muamalat, Endy Abdurrahman, dan Direktur Utama SMF, Raharjo Adisusanto, di Nusa Dua, Bali, tanggal 27 Maret 2015. Kerjasama pembiayaan antar kedua institusi memiliki plafond senilai Rp 1,2 Triliun yang terdiri dari 2 tranche, masing-masing Rp 450 Miliar dengan tenor 1 tahun dan Rp 750 Miliar dengan tenor 3 tahun. Penandatanganan kerjasama tersebut merupakan kerjasama yang ke-7 kalinya dengan menggunakan skema akad Mudharabah Muqayyadah.

Mudharabah Muqayyadah merupakan akad kerjasama dengan SMF sebagai shahibul maal (penyedia dana) agar dananya dikelola oleh Bank Muamalat sebagai mudharib. Dalam akad ini, pihak penyedia dana berhak menentukan dana disalurkan pada sektor usaha tertentu guna mendapatkan keuntungan bersama. Pada kesempatan kali ini, SMF memilih KPR sebagai sektor usaha bagi investasi dananya di Bank Muamalat.

Produk KPR yang dimiliki Bank Muamalat memberikan 2 alternatif transaksi bagi nasabah, yaitu secara jual beli (Murabahah) dan kongsi (Musyarakah Mutanaqishah). Sistem kongsi dapat diterapkan untuk kepemilikan properti baru, second, maupun take over dari Bank sebelumnya. Adapun sistem jual beli dapat diterapkan untuk pembelian properti secara indent dan renovasi. KPR iB Muamalat menawarkan plafon minimum pembiayaan rumah sebesar Rp 50 juta untuk wilayah DKI Jakarta dan Rp 25 Juta untuk wilayah diluar DKI Jakarta sehingga dapat terjangkau oleh seluruh segmen nasabah.

Bila melihat masih tingginya backlog perumahan di Indonesia, dapat menjadi kesempatan besar bagi perbankan syariah untuk berpartisipasi di sektor riil pembiayaan perumahan. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan kinerja industri perbankan syariah di Indonesia yang hingga kuartal 3 tahun 2014 asetnya mencapai Rp 244,19 Triliun. “Bank Muamalat kami pandang sebagai mitra strategis bagi SMF dalam mengembangkan industri KPR di Indonesia, sehingga kedepan industri ini akan semakin maju dan berkembang,” imbuh Raharjo Adisusanto dalam keterangan tertulisnya.

Pembiayaan yang diperuntukkan bagi kalangan individu ini memiliki jangka waktu pengembalian hingga 15 tahun. “Produk pembiayaan kami tidak hanya comply dengan syariah, namun juga kompetitif dengan jangka waktu pengembalian yang panjang, nilai angsuran yang relatif stabil, serta memiliki pricing yang bersaing,” jelas Endy PR Abdurrahman.

Pada posisi Desember 2014, KPR iB Muamalat telah memiliki outstanding sebesar Rp 8,8 Triliun dengan target pertumbuhan KPR pada tahun 2015 diprediksikan tumbuh antara 11% hingga 12%. Adapun total outstanding pembiayaan pionir perbankan syariah di Indonesia ini tercatat Rp 45,26 Triliun pada periode yang sama. “Ekspansi bisnis kami tidak hanya terfokus pada peningkatan kualitas dan kehandalan layanan, namun senantiasa diilhami dengan inovasi yang menyesuaikan permintaan pasar. Kini, inovasi tersebut hadir dalam KPR iB Muamalat, semoga keunggulan fitur produk ini dapat memenuhi kebutuhan dan mendukung kegiatan bisnis nasabah,” pungkas Endy.

Raharjo mengungkapkan hingga Februari 2015, SMF telah menyalurkan pembiayaan kepada Perbankan syariah dengan nilai akumulasi sebesar Rp 4.249 miliar. Total pembiayaan yang telah disalurkan kepada penyalur KPR baik syariah maupun konvensional sebesar Rp 11.091 sedangkan untuk sekuritisasi sebesar Rp 5.455 baru diterapkan pada konvensional. Sebagai bank syariah yang memiliki portofolio KPR yang cukup besar, SMF berharap bahwa Bank Muamalat akan menjadi pelopor sekuritisasi KPR syariah yang pertama di Indonesia. (her)

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS